Tampilkan postingan dengan label Structure. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Structure. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Februari 2013

Downloads

Berikut ini beberapa tautan download, antara lain program-program buatan penulis dan beberapa peraturan / SNI yang sering penulis gunakan, juga beberapa tautan berguna lainnya. Buat yang pingin nampang di sini (maksudnya juga memiliki freeware buatan sendiri atau tautan lain yang ingin dibagikan) juga boleh, dengan menghubungi penulis terlebih dahulu.

E-Book :

Software :

Code / Peraturan / Pedoman :

Brosur / Lain-lain :

* = baru ditambahkan

Program Grafik Gempa SNI

Belum lama ini dapat info ada program (online) bagus :) … Klik saja alamat berikut :

puskim.pu.go.id/desain_spektra_indonesia_2011

Tunggu dulu biar puas loading-nya…

Loading...

Nanti akan keluar seperti yang berikut ini :

Peta Indonesia

Pada halaman ini pernah diulas mengenai peta hazard gempa (2010). Nah… kalau yang ini adalah untuk membantu perhitungan data grafik spektrum respons menurut SNI Gempa kita yang terbaru (masih draft…) resmi dari Puskim. Data grafik faktor-faktor koefisien dalam peta hazard tersebut juga bisa dilihat pada tab-tab yang ada di bagian atas (Peta MCEG, Peta MCER, dst.).

Faktor Koefisien

Dalam SNI Gempa 2002, grafik spektrum respons tinggal dilihat yang tercantum di peraturan terkait, disesuaikan dengan Wilayah Gempa dan jenis tanahnya. Misal kota Yogyakarta kalau dilihat terletak di Wilayah 3, jadi dapat grafik seperti ini :

Wilayah 3 (2002)

Ingat, itu grafik yang 2002 lho… Secara umum dalam peraturan baru nanti proses garis besarnya masih sama, namun zonasi gempanya sudah lebih detail (halus) dibandingkan peraturan 2002, plus ada lebih banyak faktor yang akan terlibat dalam perhitungan. Oleh karena itu, tiap kota atau tempat di Indonesia akan memiliki grafik spektrum respons masing-masing, tidak hanya terbatas pada 6 Wilayah Gempa seperti sebelumnya. Misalnya, untuk kota Yogyakarta wilayah Sleman (utara) dan Bantul (selatan) nilai percepatan puncaknya akan menghasilkan nilai berbeda, sedangkan menurut peraturan lama nilainya akan sama karena terletak di Wilayah Gempa yang sama pula. Lebih akurat, tapi lebih pusing juga, kan… Intinya, untuk menyederhanakan (membantu) perhitungan maka itulah fungsi utama dari program online ini.

Oke, sekarang mari kita coba pakai programnya. Seperti disebutkan sebelumnya, bahwa masing-masing kota atau tempat akan memiliki grafik spektrum responsnya sendiri, tergantung lokasinya. Kalau dilihat di sebelah kiri atas, di bawah kotak judul Desain Spektra Indonesia, tercantum keterangan Jenis Input. Jadi, tempat yang akan dihitung grafik spektrum responsnya bisa dimasukkan berdasar koordinat (lintang dan bujur) atau nama kota atau tempat yang bersangkutan.

Jenis Input

Kita coba masukkan berdasar nama kota saja dulu supaya mudah. Klik saja pilihannya lalu pilih Nama Kota, dan ketik nama kota dimaksud. Setelah itu, klik tombol Hitung.

Nama Kota

Pada peta Google di samping akan otomatis menuju (terlihat) posisi tempat kotanya dan muncul kotak keterangan. Klik Lihat Hasil lalu akan ditampilkan pop-up yang memuat tabel hasil perhitungan dan grafiknya.

Hasil Peta

Grafik Jogja

Di sebelah kanan tertampil grafik spektrum respons untuk tanah keras, sedang, lunak, dan batuan. Tampilan bisa disesuaikan untuk semua atau jenis tanah tertentu saja, termasuk rentang waktu, lewat pilihan di bagian kanan atas. Sedangkan pada bagian kiri, tercantum dua buah tabel. Tabel sebelah atas mencantumkan data faktor-faktor koefisien, sedangkan tabel bawah adalah data koordinat untuk grafik spektrum respons (pasangan nilai waktu dalam detikdan koesifien percepatan dalam g). Kedua tabel tersebut juga bisa disesuaikan tampilannya untuk tiap jenis tanah atau batuan.

Untuk tabel tersebut, data yang ada juga bisa disalin dalam bentuk lain, misal ke format Excel. Tinggal klik saja tombol Excel di bagian atas tabel, lalu pilih nama dan lokasi penyimpanan. Mungkin ada baiknya juga di belakang nama file diberikan sekalian ekstensinya (.xls atau .xlsx).

Save Data

Data Excel

Cuma sayangnya nilai waktu (T0 dan TS) untuk tabel koordinat grafik (bawah) masih dalam bentuk notasi, belum disesuaikan dengan hasil perhitungannya (tabel atas), jadi perlu ditambahkan atau diganti sendiri semisal akan diolah lebih lanjut. Selain itu data grafiknya tidak bisa di-save secara langsung, mesti dengan capture manual misal lewat print screen atau bantuan program screen capture. Mudah-mudahan bisa dikembangkan lagi. Tapi lumayanlah setidaknya perhitungan bisa menjadi jauh lebih ringkas dan sangat menghemat waktu. Jika memerlukan data untuk input response spectrum function di SAP2000 misalnya, tinggal pakai saja hasil data dari tabel koordinat grafiknya.

Nah, sekarang coba utak-atik lebih lanjut. Misalnya pada contoh di atas adalah data untuk kota Yogyakarta, maka jika dilihat lebih detail koordinat lintang dan bujur ada di wilayah sekitar Kraton (pusat kota). Mari coba lihat untuk data tempat lain namun masih di wilayah Yogyakarta. Ambil contoh di lokasi sekitar bandara Adisucipto. Untuk melihat data suatu lokasi, saat input jenis data pilih Koordinat (sebelah kiri atas) dalam tampilan peta sebelumnya. Setelah itu bisa geser dan zoom pada peta untuk menuju suatu lokasi tertentu. Klik saja pada lokasi yang dikehendaki, maka di bagian kiri akan otomatis tertera koordinat Lintang dan Bujur tempat yang bersangkutan. Selanjutnya klik tombol Hitung dan Lihat Hasil.

Peta Adisucipto

Misal kita lihat data untuk jenis tanah lunak.

Grafik Adisucipto

Nilai percepatan tanah puncak adalah 0,788g. Sekarang kita coba lihat lokasi di sebelah selatan, tepatnya sekitar daerah Bantul yang terkena dampak paling parah pada gempa tahun pertengahan 2006 silam. Data dilihat jenis tanah yang sama (tanah lunak).

Peta Bantul

Grafik Bantul

Nilai percepatan puncaknya sebesar 0,929g, lebih besar daripada di lokasi airport . Berikutnya untuk lokasi di utara, misal daerah Kaliurang, yang dulu juga sempat heboh akibat erupsi gunung Merapi akhir tahun 2010, untuk jenis tanah lunak juga.

Peta Kaliurang

Grafik Kaliurang

Tertera nilai percepatan puncak 0,609g. jadi nilai terbesar ada di wilayah selatan. Harap diingat, ini hanya sekadar untuk contoh saja, karena jenis tanah sebenarnya di lokasi tersebut bisa saja berbeda. Misal untuk daerah utara jenis tanahnya bisa lebih keras atau padat daripada di belahan selatan atau lainnya, sehingga nilai perbandingan percepatan mungkin sebenarnya tidak seperti selinier yang tersebut di atas. Dari contoh tersebut terlihat bahwa untuk tiap lokasi memang memiliki grafik spektrum responsnya masing-masing, walaupun masih dalam satu kota/wilayah yang sama.

Hmm… jadi penasaran, apa jadinya kalau kita klik wilayah di luar Indonesia? Oh, ternyata kebanyakan tidak bisa (nilai koordinat lintang dan bujur tidak berubah), kecuali tetangga dekat kita. Oke, coba saja klik di wilayah tersebut, yang terakhir lalu sempat (hampir) bikin ribut lagi gara-gara perkara tari Tor-tor.

Peta Malaysia

Grafik Malaysia

Nilainya kecil, hanya 0,102g. Mungkin saja itu sebatas karena interpolasi atau ekstrapolasi, ya? Waduh kok pakai aneh-aneh lihat negeri seberang segala. Sudahlah mending mengurusi negeri sendiri dulu. Grafiknya sudah keluar tapi peraturannya kok masih draft juga. Semoga bisa cepat sah lah… Amiin.

Oh ya, sekalian juga deh mengucapkan : Selamat Puasa… :)

UPDATE :

Lihat juga Peta Hazard Gempa Indonesia 2010 di sini (tersedia juga di halaman Download).

Rabu, 19 September 2012

Mengitung Portal Beton Bertulang menggunakan SAP 2000 V.11

 

Diketahui struktur portal dari beton f’c = 20 Mpa bekerja beban mati (DL), beban hidup (LL), dan beban gempa (EL) seperti pada gambar, dimensi balok 35 x 50 cm2, dan kolom 30 x 30 cm2,

clip_image002

Penyelesaian :

a. Menentukan Model Struktur

1) Tetapkan unti satuan ke kN.m.C

2) Pilih menu File – New Model, pada kotak dialog tentutan pilihan template Portal Frame, isikan data sebagai berikut :

clip_image004

3) Klik OK

4) Jendela 3 D dinonaktifkan, tampilkan jendela X-Z view, sehingga di layar monitor muncul tampilan seperti gambar dibawah ini :

clip_image006

5) Atur perletakan menjadi jepit, dengan cara klik pada semua titik/joint perletakan sehingga akan bertanda silang, kemudian pilih menu Assign – Joint – Restrains.

clip_image007

6) Klik OK, sehingga ,model struktur menjadi seperti gambar di bawah ini :

clip_image009

7) Pilih batang yang tidak digunakan, tekan tombol Delete dari keyboard, pilih menu View – Refresh Windows, maka akan ditampilkan gambar berikut :

clip_image011

8) Untuk memberi penomoran batang dan titik, pilih menu View – Set Display Options, isikan ? pada label dan restraints, serta Labels untuk Frames

clip_image013

9) Klik OK, sehingga akan ditampilkan :

clip_image015

10) Penomoran yang diberikan tidak urut dan tidak rapih, sehingga perlu dilakukan pengaturan ulang pada nomor batang dan titik, dengan cara piih menu Select – Select All, maka seluruh batang akan berubah titik – titik (berarti terpiih semua)

11) Klik menu Edit – Change Label

12) Pada kotak dialog Item Type pilih elemnt Labels – Frame, pilih menu Edit – Auto Relabel – All in List

13) Klik OK

14) Lakukan hal serupa untuk Item Type element Laberl – Joint, pilih menu Auto Relabel – All in List

15) Klik OK

clip_image018

16) Setelah dilakukan penomoran ulang, maka akan ditampilkan model dengan penomoran batang dan titik yang baru yang urut dan rapi

clip_image020

b. Penetapan Penampang Struktur

1) Pilih menu Define – Material, akan tampil kotak dialog Define Materials, untuk mendefinisikan bahan beton pilih 4000Psi dan klik Modify/Show Material

clip_image021

2) Akan muncul kotak dialog Material Property, isikan Material Name and Display Color = CONC, Specified Concrete Compressive Strength f’c = 20000. Untuk fy = fys = 400 Mpa = 400000 N bisa di edit melalui modus teks menggunakan Teks editor maupun Wordped ataupun Notepad.

clip_image022

3) Klik OK

4) Untuk menetapkan dimensi penampang, pilih menu Define – Frame/Cable Sections, akan muncul kotak dialog Frame Properties,

clip_image023

5) Pada kotak klik pada Add New Property, maka akam muncul kotak dialog Add Frame Section Property

clip_image025

6) Pilih Add Ractangular, kemudian muncul kotak dialog Rectangular Section, pada Section Name ketikkan B35x50, material CONC, isikan dimensi t3 = 0,50 dan t2 = 0,35;

clip_image027

7) Klik pada Reinforcement, sehingga ditampilkan Reinforcement Data, pilih Beam, kemudian klik OK, Klik OK

clip_image029

clip_image032

8) Dengan cara yang sama, lakukan untuk menetapkan dmensi kolom, K30x30, Reinforcement Data, pilih Column

c. Penetapan Penampang Elemen Struktur

1) Pilih elemen balok pada model struktur dengan cara mengkliknya satu satu

2) Pilih menu Assign – Frame/Cable Section, akan muncul kotak dialog Frame Properties

3) Klik pada B35x50 di area Properties, kemudian klik OK maka section akan masuk ke dalam model

clip_image033

4) Ulangi langkah serupa untuk memberikan penampang pada elemen kolom dengan K30x30

clip_image034

clip_image036

d. Penetapan Kondisi Pembebanan

1) Pengaturan jenis pembebanan yang bekerja dilakukan dengan cara pilih menu Define – Load Cases, akan muncul kotak dialog Define Loads, pada kotak Load Name diubah Dead menjadi DL, tipenya DEAD, self wight multiplernya 1, klik Modify Load

clip_image038

2) Ubah DL menjadi LL untuk beban hidup, dengan tipe LIVE, dan self wight multipliernya 0, klik Add New Load

3) Ubah LL menjadi EL, tipe pilih QUAKE, self weight multipliernya 0, klik Add New Load

4) Klik OK

e. Penentuan Beban Pada Struktur

1) Beban Mati

a) Pilih elemen balok (batang nomor 5 dan 7) untuk memasukkan beban mati, pilih menu Assign – Frame Loads – Distributed,

b) Maka akan muncul kotak dialog Frame Distributed Loads, ubah pada kotak dialog Load Case Name menjadi DL, isikan pada kotak Uniform Load sebesar 3, klik Add to Existing Loads pada kotak Options

c) Klik OK

clip_image039

clip_image041

d) Pilih batang nomor 6, lakukan langkah seperti di atas, isikan Uniform Load sebesar 4, klik Add New Loads, klik OK

clip_image042

clip_image044

e) Pilih batang nomor 10, lakukan seperti langkahdi atas, isikan Uniform Load sebesar 2, klik Add New Loads, klik OK

clip_image045

f) Tampilkan model yang menerima beban mati sebagai berikut :

clip_image047

2) Beban Hidup

a) Pilih elemen balok (batang nomor 5 dan 7) untuk memasukkan beban mati, pilih menu Assign – Frame Loads – Distributed,

clip_image048

b) Maka akan muncul kotak dialog Frame Distributed Loads, ubah pada kotak dialog Load Case Name menjadi LL, isikan pada kotak Uniform Load sebesar 2, klik Add to Existing Loads pada kotak Options

c) Klik OK

clip_image050

d) Pilih batang nomor 6, lakukan langkah seperti di atas, isikan Uniform Load sebesar 3, klik Add New Loads, klik OK

clip_image051

clip_image053

e) Pilih batang nomor 10, lakukan seperti langkahdi atas, isikan Uniform Load sebesar 1, klik Add New Loads, klik OK

clip_image054

f) Tampilkan model yang menerima beban mati sebagai berikut :

clip_image056

3) Beban Gempa

a) Pilih joint nomor 5 dan 9 untuk memasukkan beban gempa, pilih menu Assign – Joint Loads – Forces, maka akan tampil kotak dialog Joint Forces

b) Ubah Load Case Name menjadi EL dan isikan pada kotrak Force Global X sebesar 3, klik Add to Existing Loads pada kotak Option,

clip_image057

c) Klik OK

d) Tampilkan model yang menerima beban mati sebagai berikut :

clip_image059

f. Analisis Model

1) Simpan model melalui menu file Save As, ketik nama file yang dikehendaki.

2) Pilih menu Analyze – Set Analyze Option. Pada Fast FDOFs pipil XZ Plane

3) Klik OK

4) Pilih menu Analyze to Run, pada case Name pilih MODAL, klik Run/Do Not Run Case

clip_image061

5) Klik Run Now

6) Model akan dianalisis sampai lengkap

7) Klik OK untuk menutup jendela analisis

clip_image063

8) Maka dilayar monitor akan tampil gambar seperti di bawah ini

clip_image065

g. Penampilan Deformasi Struktur

1) Setelah analisis perhitunga selesai, maka akan dapat diperihatkan struktur yang mengalami deformasi.

2) Pilih menu Display Show Deformed Shape, Load case defaultnya adalah DL, apabila dikehendaki tampilan akibat beban yang lain (LL, EL), tinggal melakkan perubahan pada Case/Combo Name-nya saja tinggal klik

clip_image066

3) Klik OK

4) Untuk melihat besaran gaya yang terjadi pada join, ubah dulu satuan dalam kN,mm, C

5) Klik pada joint yang dikendaki, lalu klik kanan dan biarkan pointer menunjuk pada jointnya, maka akan terlihat seperti gambar di bawah ini

clip_image068

h. Penampilan Gaya-Gaya Dalam

Hasil perhitungan analisis, akan dihasilkan gaya-gaya dalam berupa momen, gaya lintang, gaya normal, puntir, dan reaksi perletakan. Untuk menampilkan gaya-gaya dalam, piih menu Display – Show Forces/Stresses – Frame/Cable, piih gaya dalamyang akan ditampilkan.

clip_image070

clip_image072

i. Pemeriksaan Tegangan Elemen

1) Piih menu Option – Preference – Concrete Design, maka akan ditampilkan kotak dialog Concrete Frame Design Frame for ACI 318-99, agar sesuai dengan SkSNI ’91 ubahlah koefisien – koefisiennya menjadi :

clip_image074

clip_image076

2) Klik OK

3) Pilih menu Design – Concrete Frame Design – Strat Design/Check Strukture, akan ditampilkan floating window yang memperlihatkan informasi tentang perancangan dan kontrol tegangan baja di sepanjang elemen

clip_image078

4) Klik kanan pada salah satu elemen, maka akan muncul Concrete Beam Design Information

clip_image079

5) Untuk mengetahui hasil perhitungan secara detail klik pada tombol Flex Detail. Perhatikan Unit yang dipilih

6) Tampilan informasi detail dari hasil perhitungan pada elemen

clip_image081

7) Bila dilihat untuk nilai fy dan fys-nya belum sesuai maka harus dirubah dengan jalan di Save terlebih dahulu

8) Klik File – Export – SAP2000 .s2k text file

clip_image082

clip_image084

9) Pilihpada bagian Material Properti

10) Klik OK

clip_image085

11) Klik Save

12) Buka jendela Windoww Explorer, cari file yg disimpan tadi ( contoh soal5.s2k ) klik kanan – Open With – WordPad

clip_image086

13) Klik WordPad maka akan tampil jendela text editor berpa WordPad, ganti nilai fy = 400000 pada Material Properties 03a maupun 03B

clip_image087

14) Klik save

15) Tutup WordPad-nya

16) Pergi ke SAP 2000, klik File – Import – SAP2000 V8 to V11 .s2k Text File

clip_image088

17) Muncul kotak dialog Import Tabular Database, pilih yang Add to Existing model

clip_image089

18) Klik OK maka akan tampil kotak dialog seperti di bawah ini

clip_image090

19) Pilih nama file yang sudah di edit tadi, klik open, maka akan muncul kotak dialog Acces Database Import Log

clip_image092

20) Klik Done

21) Ulangi langkah nomor 3 sampai nomor 5 untuk melihat kembali Tampilan informasi detail dari hasil perhitungan pada elemen, maka nilai fy dan fys sudah berubah, lihat gambar bawah

clip_image094

LinkWithin